Jangan Rusak Lebaranmu
Lebaran itu bukan sekadar baju baru, kue yang berderet di meja, atau foto keluarga yang diunggah ke media sosial. Lebaran adalah momen pulang—pulang ke hati yang bersih, pulang ke hubungan yang sempat retak, pulang kepada Allah dengan jiwa yang lebih jernih. Setelah sebulan kita dilatih menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sayang sekali kalau kemenangan itu justru ternodai oleh hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa.
Kadang tanpa sadar, obrolan silaturrahmi berubah jadi ladang ghibah. Dari yang awalnya tanya kabar, tiba-tiba beralih membicarakan orang lain “Eh si anu sekarang gimana ya?”, lalu disambung cerita yang belum tentu benar. Padahal, kita baru saja selesai Ramadan, bulan di mana lisan dilatih untuk dijaga. Jangan sampai lidah kita lebih tajam di hari raya daripada di hari puasa.
Ada juga yang tanpa sengaja menyakiti hati lewat pertanyaan. “Kapan nikah?”, “Kok belum punya anak?”, “Kerja di mana sekarang?”, atau “Gajinya berapa?” pertanyaan yang bagi sebagian orang terasa biasa, tapi bagi yang ditanya bisa menjadi luka yang diam-diam dipendam. Lebaran seharusnya jadi ruang nyaman, bukan ruang interogasi yang membuat orang ingin cepat pulang.
Belum lagi budaya pamer yang kadang dibungkus dengan dalih “berbagi kebahagiaan”. Foto rumah, kendaraan baru, amplop tebal, atau cerita kesuksesan yang ditampilkan berlebihan. Boleh saja bersyukur, tapi jika membuat orang lain merasa kecil, iri, atau minder, itu bukan lagi syukur itu bisa jadi ujian bagi hati kita. Tidak semua orang berada di titik yang sama, dan tidak semua orang sedang baik-baik saja.
Ada pula kebiasaan membandingkan. “Anaknya si fulan sudah sukses”, “Dia lebih cepat mapan”, atau “Kamu harusnya bisa seperti dia.” Padahal setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Lebaran bukan panggung kompetisi, tapi ruang untuk saling menguatkan. Kita tidak pernah tahu seberapa berat perjuangan seseorang di balik senyumnya hari itu.
Maka mari kita jaga suasana Lebaran ini dengan hati yang lebih halus. Perbanyak senyum, perbanyak doa, dan perbanyak ucapan yang menenangkan. Jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menyakiti. Karena bisa jadi, satu kalimat ringan dari kita justru menjadi beban berat bagi orang lain.
Semoga Lebaran kali ini benar-benar menjadi hari kemenangan. Bukan hanya menang menahan lapar, tapi juga menang menjaga lisan, hati, dan sikap. Kita pulang dari Ramadan bukan hanya dengan gelar “fitri”, tapi dengan jiwa yang benar-benar suci yang ringan meminta maaf, dan tulus memberi maaf.
Komentar0