*妻賢夫禍少,賢妻勝良藥。男人娶什麼樣的老婆,就會過什麼樣的日子*  
_Istri yang berbudi luhur akan menjauhkan suami dari malapetaka; istri yang bijaksana lebih mujarab daripada obat. Laki-laki menikahi perempuan seperti apa, maka demikian pula kehidupannya yang akan dijalani._  




*Pepatah menyatakan: "Istri berbudi menjauhkan suami dari malapetaka, istri bijaksana lebih mujarab daripada obat. Laki-laki menikahi perempuan seperti apa, maka demikian pula kehidupannya." Marilah kita simak sebuah kisah.*

*Kisah Ayam dan Kebijaksanaan*  
Pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi, Dinasti Qing, di sebuah kota hiduplah seorang sarjana miskin bernama Lin Wenyuan bersama istrinya, Nyonya Sun. Meskipun Lin Wenyuan memiliki cita-cita tinggi, ia berkali-kali gagal dalam ujian kenegaraan. Keluarganya tidak memiliki penghasilan tetap, sehingga seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidupnya sepenuhnya ditanggung oleh istrinya, Nyonya Sun. 

Meskipun hidup dalam keterbatasan, keduanya senantiasa saling menghormati. Kehidupan mereka pun berjalan dengan tenang. Menjelang Tahun Baru Imlek, Lin Wenyuan menggunakan sisa uang koin yang dimilikinya untuk membeli seekor ayam. Ia bermaksud mempersembahkannya kepada Dewa Kekayaan dengan harapan memperoleh keberuntungan dan rezeki. Setelah menyembelih ayam tersebut, ia meninggalkan rumah. Nyonya Sun kemudian merebus ayam itu di tungku dapur.

Tiba-tiba terdengar keributan dari luar. Liao Laoye dari toko di seberang jalan datang bersama sekelompok orang dan menggeledah rumah. Liao Laoye mencium aroma masakan, lalu membuka tutup panci dan berteriak: "Ternyata di sini! Pantas ayam saya hilang, rupanya dicuri oleh kalian!"

Nyonya Sun menangis dan segera memberikan penjelasan. Namun Liao Laoye tidak mempedulikannya. Ia mendorong Nyonya Sun seraya berkata: "Kalian telah mencuri ayam, seharusnya saya tidak memaafkan kalian. Namun berhubung Tahun Baru sudah dekat, toh ayam ini juga akan disembelih. Lebih baik saya ambil saja, anggaplah saya yang menyembelihnya untuk kalian." 

Setelah berkata demikian, ia mengambil ayam rebus itu dan kembali ke tokonya.

Tak lama kemudian Lin Wenyuan pulang dan bertanya: "Apakah ayamnya sudah matang?" Sang istri khawatir bahwa kebenaran akan memicu pertengkaran, maka ia tersenyum kaku dan menjawab: "Sepertinya sudah matang. Saya hendak mengangkatnya untuk memastikan apakah sudah empuk atau belum."

Namun begitu tutup panci dibuka, sekelebat bayangan menerobos masuk, menyambar ayam tersebut dan melarikan diri. Pengejaran pun tidak berhasil.

Mendengar penuturan istrinya, Lin Wenyuan menghela napas dan berkata: "Mungkin ini memang takdir. Jika para dewa tidak berkenan, maka percuma juga kita bersembahyang kepada Dewa Kekayaan."


Pada hari pertama Tahun Baru, seluruh rumah sibuk merayakan. Namun terdapat dua rumah yang pintunya tertutup rapat yakni toko Liao Laoye dan rumah Lin Wenyuan.

Ternyata setelah Liao Laoye membawa pulang ayam itu, keluarganya memberitahukan bahwa ayam mereka yang hilang telah ditemukan. Menyadari kesalahannya menuduh orang lain, Liao Laoye diliputi rasa bersalah dan malu, sehingga ia memilih untuk tidak membuka tokonya.

Sementara itu, Lin Wenyuan tidak memiliki ayam maupun makanan untuk perayaan. Tanpa selera merayakan Tahun Baru, ia pun tidak membuka pintu rumahnya.

Pada malam harinya, Liao Laoye berdiskusi dengan istrinya: "Saya merasa bersalah karena telah menuduh Lin Wenyuan mencuri ayam. Bagaimana jika besok kita membawa hadiah dan sejumlah uang untuk bersilaturahmi Tahun Baru? Jika ia menyinggung perkara ayam, kita ganti dengan uang. Jika tidak, anggap saja sebagai hadiah biasa."

Istrinya menyetujui gagasan tersebut. Maka pada pagi hari kedua Imlek, pasangan Liao Laoye membawa bingkisan besar dan mengetuk pintu rumah Lin Wenyuan.

Lin Wenyuan terkejut karena ada tamu yang datang sepagi itu, lalu segera mempersilakan masuk. Ketika melihat hadiah dan uang yang dibawa, ia berusaha menolak. Liao Laoye berkata: "Tuan Lin tidak perlu sungkan. Saya memahami kesulitan Tuan. Tuan adalah seorang berilmu tinggi. Anggaplah uang ini sebagai pinjaman agar Tuan dapat belajar dengan tenang untuk menghadapi ujian."

Akhirnya Lin Wenyuan menerima pemberian itu dengan perasaan malu. Liao Laoye melanjutkan: "Saya memiliki dua orang anak. Saya bermaksud memohon kesediaan Tuan untuk menjadi guru mereka. Upahnya 2.000 kepeng per bulan ditambah dua karung beras. Bagaimana pendapat Tuan?" 

Lin Wenyuan sangat gembira dan langsung menyetujuinya.

Setahun kemudian diadakan ujian kenegaraan. Lin Wenyuan hendak mengikutinya, tetapi tidak memiliki biaya perjalanan ke ibu kota. Setelah mengetahui hal itu, Liao Laoye memberinya 20 tael perak. Lin Wenyuan sangat terharu, lalu segera berkemas untuk berangkat ke ibu kota mengikuti ujian susulan.

Kali ini Lin Wenyuan berhasil lulus sebagai Jinshi, yaitu lulusan tingkat tertinggi. Setelah pulang ke kampung halaman dan mengadakan syukuran, ia menyadari bahwa keberhasilannya sepenuhnya berkat bantuan pasangan Liao Laoye. Sebagai wujud terima kasih, ia mengundang mereka ke pesta syukuran tersebut. Hidangan terakhirnya adalah ayam utuh.

Begitu melihat ayam itu, Nyonya Sun tiba-tiba menangis. Lin Wenyuan segera bertanya apa yang terjadi. Sang istri terisak dan menjawab: "Tuan, seandainya bukan karena ayam itu dahulu, mana mungkin Tuan dapat mencapai kedudukan setinggi ini?"

Lin Wenyuan terperanjat. Barulah saat itu sang istri menuturkan kronologi peristiwa ayam tersebut secara lengkap.

Liao Laoye yang sejak lama diliputi rasa bersalah segera berkata: "Saudara memiliki istri yang bijaksana, sehingga terhindar dari malapetaka. Memiliki istri seperti ini adalah suatu keberuntungan besar bagi Tuan!"

Sejak peristiwa itu, setiap tanggal 23 bulan 12 penanggalan Imlek, pasangan Lin Wenyuan selalu memasak semangkuk sup ayam.

*Hikmah:*
Pepatah mengatakan: "Istri berbudi, keluarga sejahtera. Perempuan baik akan menjadikan tiga generasi makmur." Memiliki istri yang berakal dan memahami norma, niscaya akan mendorong adat keluarga menjadi semakin maju dan berkembang. Keluarga ibarat tiang penopang. Bagi seorang laki-laki, keberhasilan seumur hidupnya ditentukan oleh istrinya.